Seperti Apa Rasa Bekatul?

 On Rabu, 20 Agustus 2014  

Barangkali jika ada yang dikeluhkan dalam mengkonsumsi bekatul adalah soal rasanya yang tawar. Tentu tidak semuanya hanya sebagian saja terutama mereka yang mengidap diabetes karena cara penyajiannya yang tidak boleh dicampur dengan gula atau madu alias hanya bekatul yang rasanya tawar itu saja.

Bagi mereka yang mengkonsumsi bekatul tanpa dicampur dengan gula atau madu mungkin akan merasa bahwa bekatul itu tidak enak dan ada kemungkinan sebagian dari mereka tidak akan mengonsumsi bekatul lebih lanjut hanya karena tidak suka mengkonsumsi makanan yang tidak ada rasanya. Sebetulnya bukan karena rasanya tidak enak, karena bekatul itu sebetulnya rasanya tawar. Masalahnya hanya pada biasa atau tidak biasa saja. Buktinya nasi itu rasanya juga tawar tapi banyak orang yang tidak suka dengan rasa tawar tapi enak-enak saja makan nasi setiap hari tanpa komplain dengan rasa tawar dari nasi putih. Prinsipnya karena biasa atau tidak biasa saja sebenarnya.

Beras yang telah dihilangkan bagian bekatul

Sebagian lagi akan tetap melanjutkan mengkonsumsi bekatul, terutama mereka yang tidak ada keluhan diabetes atau kencing manis, karena mereka bisa mencampur dengan gula tambahan, madu, atau dengan dicampur biskuit yang diencerkan dengan air hangat. 

Yang punya keluhan diabetes tapi memiliki keinginan untuk sembuh yang sangat kuat tidak akan mempermasalahkan soal bekatul yang rasanya tawar, termasuk saya. Saya memang lebih suka mengkonsumsi yang manis-manis, sayangnya herbal itu selain madu tidak ada atau jarang sekali yang rasanya manis. Kalau obat kimia memang rasanya ada yang manis, tapi untuk konsumsi jangka panjang, oh.. no..no..no.. (jujur saja saya pribadi suka mikir-mikir kalau harus mengkonsumsi obat kimia penurun hipertensi dalam jangka panjang) kalau bisa diatasi dengan herbal yang relatif lebih rendah resiko dan efek sampingnya mendingan herbal aja deh..

Saya sendiri adalah tipikal orang yang suka mengambil keputusan berdasarkan logika dibanding emosi. Saya tahu bekatul itu rasanya tawar dan kita orang Indonesia biasanya tidak suka dengan rasa yang tawar, ngaku aja deh.. Anda pun juga begitu kan? Tapi saya ingin sembuh, oleh karenanya meskipun rasanya tawar ya tetap minum saja, toh nanti lama-lama juga terbiasa. Dan sekarang setelah konsumsi bekatul beberapa lama, akhirnya manfaatnya sudah mulai terasa. Tekanan darah saya yang biasanya di angka 160/100 sudah turun di angka 130/90 dalam tempo 2 minggu. Buang air besar jadi lancar padahal sebelumnya sering susah BAB walaupun sudah dibantu mengkonsumsi asupan serat sachetan dan stamina tubuh meningkat dan tidak gampang masuk angin lagi.

Rasa bekatul yang tawar dan "kurang enak" tersebut dapat diakali dengan mengkonsumsinya dicampur dengan gula merah (palm sugar), susu, coklat, havermout, sereal, bubur kacang hijau.

Kawan saya bahkan setelah mengkonsumsi bekatul dr Liem selama lebih dari 8 bulan penyakit asmanya tidak pernah kambuh lagi. Obat asma yang diminum maupun yang dihirup (inhaler) tidak pernah digunakan lagi. Hingga sekarang kawan saya hanya meminum bekatul untuk mengatasi penyakit asmanya.

Kalau begitu apakah kita akan ketergantungan dengan bekatul? Ya tidak.. itu tergantung kita sendiri, kalau sudah sembuh apakah ingin lanjut konsumsi bekatul sebagai usaha pencegahan penyakit atau tidak. Kalau merasa sudah sembuh dan tidak ingin konsumsi bekatul lagi ya berhenti, kalau suka dengan khasiat dari bekatul yang mampu menjaga stamina tubuh dan melancarkan buang air besar, menjaga metabolisme tubuh, serta menjaga tubuh dari serangan penyakit degeneratif ya bisa dikonsumsi setiap hari, lagi pula bekatul itu kan sebenarnya bagian dari beras juga.

Tante saya mengatakan kalau ada kawan beliau yang sembuh dari gagal ginjal karena rajin mengkonsumsi bekatul dr Liem hingga sekarang ketagihan mengkonsumsi karena khasiatnya yang mampu memelihara kesehatan dan membuat badan tidak gampang sakit, lagipula rajin mengkonsumsi kulit ari beras / rice bran dapat mencegah obesitas dan membuat awet muda.

Bekatul itu sebenarnya bagian dari nasi yang bisa Anda konsumsi juga, tetapi pada proses penggilingan beras bekatul itu dikupas dan dibuang. Tujuannya supaya beras yang Anda beli dan makan itu terlihat putih, bersih, menarik dan rasanya enak dimakan. Hanya saja Anda jadi kehilangan nutrisi yang melimpah dan sangat penting dari bagian beras itu sendiri. Khasiat dan manfaat bekatul jadi tidak kita peroleh dari beras putih.

Misalnya saja baik obat maupun bekatul, dua-duanya rasanya bukanlah selera Anda. Anda lebih pilih yang mana untuk dikonsumsi dalam jangka panjang? Walaupun keduanya sama-sama bermanfaat untuk penyakit yang kita derita, tetapi saya pribadi lebih memilih yang 100% alami dan relatif lebih aman dari efek samping. Paling-paling saya harus membiasakan diri meminum bekatul yang rasanya tawar itu. Itu pun waktu meminumnya hanya butuh waktu beberapa detik saja. Masak saya harus memilih mengkonsumsi obat kimia dalam jangka panjang? Saya pribadi nggak deh (tapi ini pendapat pribadi saya saja).

Sedikit catatan, bagi yang menderita sakit maag sebaiknya minumlah bekatul dr Liem setelah makan. Bisa juga dimakan bersamaan dengan nasi, mie instant, bubur, pisang, atau makanan yang mengandung karbohidrat lainnya. Ini dikarenakan pada sebagian kecil orang yang sakit maag timbul sedikit rasa mual setelah meminum bekatul. Solusi lain adalah dengan mengonsumsi bekatul dalam keadaan encer.
Seperti Apa Rasa Bekatul? 4.5 5 Admin Situs Rabu, 20 Agustus 2014 Barangkali jika ada yang dikeluhkan dalam mengkonsumsi bekatul adalah soal rasanya yang tawar. Tentu tidak semuanya hanya sebagian saja ter...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar